Friday, 11 July 2008

polri oh polri...

"SIAP MEMBANTU DAN MELAYANI MASYARAKAT"...semboyan yang sangat bijak dan sepintas menentramkan pembacanya. namun jika kita cermati realisasi di lapangan, yang terjadi malah sebaliknya. poorly you polri...

ironis memang, semboyan itu kini hanyalah sebuah wacana belaka. keberingasan polri baik secara lembaga maupun individu terus saja terjadi, hingga detik ini. setiap ada demonstrasi mahasiswa dapat dipastikan jatuh korban akibat amarah polisi yang tidak terkendali. dan dalam banyak kasuspun polisi lebih memilih bertindak represif dari pada persuasif. ini berarti reformasi sistemik (intern) yang dilakukan di waktu lalu tidak berpengaruh sama sekali terhadap perilaku anggotanya. tetap saja, tidak membawa perubahan signifikan. dan tetap saja paradigma berfikir mereka jauh dari nilai/pesan moral pada semboyan yang ada.

jika kita menengok ke belakang, beberapa puluh tahun lalu (tahun 80-95 an), antusiasme para orang tua dan anak muda sangat tinggi terhadap profesi polisi. (walaupun untuk masuk saja harus membayar hingga puluhan juta rupiah). tapi hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap memilih profesi polisi. karna dimata wonk ndeso profesi polisi adalah profesi yang membanggakan dan terpandang.

saya jadi ingat, setelah lulus SLTA, ada oknum polisi dan keluarganya yang menawarkan jasanya kepada adik saya, yang katanya bisa "membantu" memudahkan untuk menjadi anggota dengan imbalan sejumlah uang Rp 40-60 juta. pada awalnya adik saya tertarik dengan tawaran itu. tapi setelah berpikir panjang dan mempertimbangkan banyak akhirnya adik saya harus mengurungkan niat itu. logikanya uang Rp 40-60 jt itukan daripada diberikan pada orang yang ga jelas dan sudah ketahuan secara agama juga dilarang, mendingan dijadikan modal usaha saja. dan untungnya, setelah itu adik saya tidak lagi berniat menjadi anggota polri.
namun apa yang terjadi beberapa waktu sebelum jatuhnya rezim soeharto. citra polisi anjlok, hingga titik terendah. masyarakat tidak lagi respek dengan profesi polisi dan dimana-mana, polisi dianggap sebagai tidak lebih baik dari sampah. bahkan banyak orang mempunyai keinginan untuk mencaci dan melempari dengan kotoran binatang. sebegitu rendahkah profesi polisi? bisa jadi iya. mengingat perilaku mereka sangat buruk masa itu. banyak nyawa melayang karena ulah polisi. banyak orang-orang baik dikambing hitamkan, diburu, diinjak-injak dan ditembak seolah sedang memburu babi hutan. berapa banyak istri yang kehilangan suami, dan ribuan anak yang kehilangan kasih sayang seorang bapak. suami mereka hilang, DICULIK POLISI, bapak mereka mati... disiksa sebelum dibunuh juga OLEH POLISI.

pasca reformasi citra polri mulai membaik, namun tetap saja perilaku-perilaku kolonial masih terus ada, penyimpangan demi penyimpangan seolah tidak pernah luntur. tren yang dikembangkan oleh polisi adalah kembali kepada slogan membantu dan melayani masyarakat tentunya dengan sejumlah imbalan donk... (istilah poluler uang rokok). di sini polisi memposisikan diri sebagai preman-preman pasar/preman-preman kampung. dia akan marah dan ENGGAN MELAYANI LAGI MASYARAKAT KECUALI ADA UANG LELAH (jatah reman). lihat saja praktek-praktek pungli dengan dalih demi keamanan dll.

setelah tren itu dianggap agak basi, mereka ciptakan tren baru yang lebih "manusiawi", untuk mencari sampingan, yakni dengan mencari-cari celah dan kesalahan para pengendara kendaraan bermotor. ngumpet di warung rokok, warung kopi, warteg atau bawah pohon rindang... dan tiba-tiba muncul dengan gaya khasnya "selamat pagi pak". "selamat siang bu.."anda telah melanggar lalu lintas."
"mau sidang atau damai saja? "

... dan entahlah setelah tren ini habis masa berlakunya? tren apalagi yang akan dikembangkan polisi, kita tunggu saja nanti....

No comments:

Post a Comment