ketika banyak orang tidak percaya lagi dengan parpol, atau sudah muak dengan "janji muslihat" -nya, atau katakanlah sudah bosan dengan kehidupan politik partai, atau dalam dirinya tertanam rasa kebencian yang teramat sangat terhadap perilaku orang-orang parpol, atau merasa enggan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, golput bisa menjadi alternatif pilihan yang aman. paling tidak, dengan bersikap tidak memilih salah satu partai kontestan pemilu, secara moral dia tidak akan terbebani, bilamana ternyata partai yang sejatinya ingin dia pilih ternyata dikemudian hari melakukan penyelewengan-penyelewengan.
fenomena golput semakin kental akhir-akhir ini. banyak dari golongan masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pilkada-pilkada di nusantara ini. salah satunya yang paling mencolok adalah pada pilkada jateng, 45% lebih masyarakat dari jumlah pemilih terdaftar tidak mencoblos salah satu kandidat yang diusung parpol. itu berarti yang memimpin jateng adalah golput donk... bukan bibit-ningsih.
kok, bisa terjadi yang demikian ya? lalu dimana letak kesalahannya? jawabnya mudah dan simpel, rakyat sudah emoh dikadalin parpol.
angka 45% itu sangat fenomenal, walau tidak mewakili keseluruhan wilayah (daerah) di indonesia. hmm... tidak bisa dibayangkan andai dalam pemilu 2009 nanti jumlah golput nasional setara atau bahkan melampaui suara golput jateng. ini bisa diartikan sebagai kegagalan kolektif parpol, oleh karena mereka tidak mampu mengakomodir aspirasi dan keinginan masyarakat. kasus-kasus seperti ini yang seharusnya disadari dan disikapi dengan bijak oleh parpol-parpol itu. kalau mau dilirik, setidaknya dandan dulu donk yang cantik, perbaiki tingkah laku dan jangan sembatut (sembarangan kentut).
Pengamat politik UI Arbi Sanit mengatakan golput juga hak rakyat. Rakyat berhak untuk golput dan itu menjadi pilihan rakyat ketika penguasa, parpol, dan lembaga negara tidak bisa memberikan prospek kesejahteraan bagi rakyat.
Menurutnya, Golput itu salah satu cara rakyat untuk mendidik penguasa dan parpol, karena rakyat harus bertanggungjawab untuk tidak memilih ketika penguasa, parpol, dan lembaga Negara bobrok,” katanya. Golput juga perlawanan terhadap kebobrokan penguasa.
Arbi mengatakan kalau rakyat tidak mau memilih jangan salahkan rakyat. “Salah penguasa dan parpol itu sendiri tak mampu meyakinkan rakyat. Kalau pemimpin dan parpol tak memberi prospek, dan korupsi berjamah tetap marak, bagaimana mungkin rakyat mau memilih."
(sumber: media indonesia, 6 Juli 2008)
fenomena golput semakin kental akhir-akhir ini. banyak dari golongan masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pilkada-pilkada di nusantara ini. salah satunya yang paling mencolok adalah pada pilkada jateng, 45% lebih masyarakat dari jumlah pemilih terdaftar tidak mencoblos salah satu kandidat yang diusung parpol. itu berarti yang memimpin jateng adalah golput donk... bukan bibit-ningsih.
kok, bisa terjadi yang demikian ya? lalu dimana letak kesalahannya? jawabnya mudah dan simpel, rakyat sudah emoh dikadalin parpol.
angka 45% itu sangat fenomenal, walau tidak mewakili keseluruhan wilayah (daerah) di indonesia. hmm... tidak bisa dibayangkan andai dalam pemilu 2009 nanti jumlah golput nasional setara atau bahkan melampaui suara golput jateng. ini bisa diartikan sebagai kegagalan kolektif parpol, oleh karena mereka tidak mampu mengakomodir aspirasi dan keinginan masyarakat. kasus-kasus seperti ini yang seharusnya disadari dan disikapi dengan bijak oleh parpol-parpol itu. kalau mau dilirik, setidaknya dandan dulu donk yang cantik, perbaiki tingkah laku dan jangan sembatut (sembarangan kentut).
No comments:
Post a Comment