Friday, 3 April 2009

Shalat

Seorang perempuan Takruni di dekat
Siwak-siwak dagangannya
Tiba-tiba berdiri menghadap kiblat
Seperti shalat
Kaki-kakinya yang telanjang bagai
Tongkat sonokeling
Menancap pada kardus-kardus
Di trotoar king Abdul Aziz yang
Padat
Tangannya serabutan menjaga
Kerudungnya
Dari usikan angin dhuha
”Lihatlah orang itu!”kata rang-orang
Yang lalu
”Masak shalat begitu!”
Dan aku seperti mendengar suara kearifan-Nya:
”Biarkan Aku yang menilai ibadah
Hamba-Ku.”

Mekah, 1426
_gusmus_komunitas mata air_

satu hari bersamamu (december 23rd, 2006)

Nyaman…

itulah rasa yang ada

ketika bersamamu satu hari itu

begitu manis, tulus,tanpa paksa dan apa adanya

ulas senyumu yang terus mengembang,

seolahmenjadi penawar ragu & cemasku

Intim…

suatu hal yang sulit kuperoleh

namun, satu hari bersamamu

keadaan itu mengalir begitu mudah & sederhana

semudah alur cerita-cerita pendek

sesederhana penerimaanmu

atas uluran tanganku

tanpa banyak tanya

Cantik…

bahkan tak hanya parasmu

juga sikap dan cara berfikirmu,

satu hari bersamamu

banyak makna tlah tergali

terima kasihku untukmu

pantas kupersembahkan

Hangat…

aroma disetiap tutur katamu

menambah pesona tak terukur

hidupkan suasana tersendiri

dikebersamaan satu hari kita

sedetikpun menjadi sangat berarti

Apa adanya…

digemulai bahasa tubuhmu

cerminkan kejujuran laku

jauh dari manipulasi,

kebersahajaan tanpa tendensi,

kearifan yang tak sempat terkondisi

berjalan sebagaimana adanya.

SATU HARI BERSAMAMU,

KISAH TEROMANTIS YANG SLALU KUTUNGGU…

kutitipkan

Oleh : A. Mustofa Bisri
Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Paslilah gunung meluapkan api.
Tapi Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri